Proyek Rp12,89 Miliar di Dharmasraya Disorot: Beton Ditimbun Tanah, Tulangan Dipertanyakan
DHARMASRAYA -- Anggaran jumbo tak selalu membuat pekerjaan di lapangan luput dari sorotan. Proyek bernilai Rp12.890.162.000 yang dikerjakan di Jorong Pisang Rebus, Nagari Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, kini menjadi perhatian setelah ditemukan sejumlah kondisi pada pekerjaan jalan rigid beton dan bangunan yang dinilai perlu dijelaskan secara terbuka.
Proyek yang bersumber dari Kementerian Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Wilayah Sungai Sumatera V, SNVT PJPA WS Batang Hari Sumatera Barat tersebut dilaksanakan oleh CV. MJ Famili dengan nomor kontrak HK0210/01/Bws.5.11.1/IV/2026 serta masa pekerjaan 210 hari kalender terhitung tanggal kontrak 24 April 2026.
Dari hasil penelusuran di lapangan, persoalan pertama yang menjadi sorotan terkait kondisi jalan rigid beton.
Pada beberapa bagian, ketebalan beton secara kasatmata terlihat tidak seragam dari satu titik ke titik lainnya. Yang menjadi pertanyaan, sebagian sisi rigid beton tersebut telah ditimbun tanah sehingga kondisi bagian tepi dan ketebalan beton tidak lagi mudah terlihat secara langsung.
Jika beton sudah tertutup tanah, bagaimana publik bisa memastikan bahwa ketebalan dan volume pekerjaan benar-benar sesuai spesifikasi?
Pertanyaan itu menjadi penting mengingat proyek ini menggunakan uang negara dengan nilai mencapai hampir Rp13 Miliyar.
Seorang pekerja yang ditemui di lokasi mengaku tidak mengetahui persoalan teknis pekerjaan tersebut. Menurutnya, ia hanya menjalankan tugas yang diberikan kepadanya.
“Kalau masalah ini kita tidak tahu, kita hanya ditugaskan untuk menimbun tanah di samping jalan rigid beton ini saja,” ujar pekerja tersebut.
Ketika ditanya mengenai ukuran jalan, pekerja itu kembali mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui detail pekerjaan.
“Kalau untuk lebar atau panjangnya jalan ini kami tidak tahu menahu,” katanya
Bukan hanya pekerjaan rigid beton. Kondisi tulangan pada bagian bangunan juga menjadi perhatian.
Dari hasil pengamatan di lapangan, pada bagian tertentu terlihat jumlah tulangan yang berbeda. Ada bagian yang secara visual tampak menggunakan dua batang, sementara pada bagian lainnya terlihat hingga enam batang.
Kondisi tersebut tentu menimbulkan pertanyaan: apakah jumlah, diameter, jarak, dan konfigurasi tulangan yang terpasang telah sesuai dengan gambar kerja dan spesifikasi teknis proyek?
Pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab hanya dengan melihat secara kasatmata.
Untuk memastikan ada atau tidaknya penyimpangan, diperlukan pemeriksaan teknis serta pencocokan dengan dokumen kontrak, gambar kerja, RAB, dan spesifikasi yang menjadi dasar pelaksanaan proyek.
Proyek dengan nilai Rp12,89 miliar tentu bukan pekerjaan kecil. Karena menggunakan anggaran negara, setiap volume pekerjaan dan mutu konstruksi semestinya dapat dipertanggungjawabkan.
Masyarakat berhak mengetahui apakah jalan rigid beton tersebut telah memenuhi ketebalan yang dipersyaratkan, apakah tulangan bangunan sesuai gambar kerja, serta bagaimana pengawasan dilakukan selama pekerjaan berlangsung.
Jangan sampai beton terlihat kokoh dari atas, tetapi spesifikasinya justru menyimpan tanda tanya.
Kini bola berada di tangan pihak terkait. CV. MJ Famili sebagai pelaksana pekerjaan maupun Balai Wilayah Sungai Sumatera V perlu memberikan penjelasan terkait kondisi yang ditemukan di lapangan.
Jika seluruh pekerjaan telah dilaksanakan sesuai kontrak dan spesifikasi teknis, tentu penjelasan dan data teknis akan menjadi jawaban paling kuat atas berbagai pertanyaan yang muncul.
Sebaliknya, jika memang terdapat ketidaksesuaian, publik tentu berharap dilakukan evaluasi dan perbaikan sesuai ketentuan.
Sebab pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan sekadar beton dan besi.
Yang dipertaruhkan adalah kualitas pekerjaan dan uang rakyat.
Media ini membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada CV. MJ Famili, Balai Wilayah Sungai Sumatera V. Hingga berita ini diturunkan selaku Peltek Riashel.ST saat dikonfirmasi lewat Whatshap tidak ada jawaban sama sekali .(Dicka)

