Dari Penindakan ke Edukasi: Strategi Humanis Dirlantas Sumbar Ubah Wajah Lalu Lintas
PADANG -- Deru kendaraan di jalanan Sumatera Barat bukan sekadar lalu lintas yang bergerak dari satu titik ke titik lain. Di balik itu, ada persoalan serius yang terus menjadi perhatian: angka kecelakaan yang masih tinggi dan menyentuh ribuan kasus setiap tahun.
Di bawah kepemimpinan M. Reza Chairul Akbar Sidiq, Direktorat Lalu Lintas Polda Sumatera Barat berupaya mengubah pendekatan dari sekadar penindakan menjadi gerakan membangun kesadaran kolektif di jalan raya.
Data menunjukkan, sepanjang tahun 2025 tercatat sekitar 3.489 kasus kecelakaan lalu lintas di Sumatera Barat. Angka ini meningkat dibanding tahun 2024 yang berada di kisaran 3.394 kasus.
Sumber : KlikPositif.com - Media Generasi Positif
Meski demikian, terdapat sisi lain yang menjadi perhatian: jumlah korban jiwa justru mengalami dinamika. Pada 2025, korban meninggal tercatat sekitar 488 orang, sementara pada tahun sebelumnya mencapai lebih dari 500 korban jiwa.
Sumber : KlikPositif.com - Media Generasi Positif
Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Ia merepresentasikan nyawa, keluarga yang kehilangan, serta dampak sosial yang tidak kecil.
Di tengah realitas itulah, konsep “Polantas Rancak Bana” hadir. Sebuah filosofi kerja yang tidak hanya berbicara soal ketertiban, tetapi juga tentang pendekatan humanis dalam membangun budaya berlalu lintas.
Alih-alih hanya menindak pelanggaran, Ditlantas Polda Sumbar kini lebih menekankan edukasi dan pencegahan. Kampanye keselamatan digencarkan, terutama menyasar kelompok usia produktif yang berdasarkan data menjadi kelompok paling dominan dalam kecelakaan lalu lintas.
Sepeda motor, misalnya, tercatat sebagai kendaraan yang paling banyak terlibat dalam kecelakaan, menunjukkan bahwa persoalan ini juga berkaitan erat dengan perilaku berkendara masyarakat sehari-hari. Sumber: KlikPositif.com - Media Generasi Positif
Di titik-titik rawan seperti jalur ekstrem Sitinjau Lauik, kehadiran polisi lalu lintas tidak hanya untuk mengatur arus, tetapi juga memberikan imbauan langsung kepada pengendara. Pendekatan ini menjadi bagian dari strategi besar yang mengedepankan social engineering membentuk perilaku, bukan sekadar menindak pelanggaran.
Perubahan pendekatan ini tidak terjadi tanpa alasan. Evaluasi internal menunjukkan bahwa penindakan semata tidak cukup untuk menekan angka kecelakaan. Dibutuhkan kesadaran kolektif dari masyarakat sebagai pengguna jalan.
Pendekatan humanis juga terlihat di internal organisasi. Kepemimpinan yang membangun kedekatan dengan anggota menjadi fondasi penting dalam menjaga konsistensi kinerja di lapangan.
Dalam konteks geografis Sumatera Barat yang dikenal dengan jalur berliku, rawan longsor, serta kondisi cuaca yang dinamis, strategi ini menjadi semakin relevan. Jalan raya bukan hanya ruang mobilitas, tetapi juga ruang risiko yang harus dikelola bersama.
Melalui kombinasi antara edukasi, penegakan hukum yang proporsional, serta inovasi pelayanan, Ditlantas Polda Sumbar berupaya menekan angka kecelakaan yang masih berada di kisaran ribuan kasus setiap tahun.
Pada akhirnya, tujuan dari seluruh upaya ini sederhana namun mendasar: menghadirkan jalan raya yang lebih aman bagi semua.
Dan di balik slogan “Polantas Rancak Bana”, tersimpan sebuah harapan bahwa suatu hari nanti, masyarakat tidak lagi tertib karena takut ditilang, tetapi karena sadar bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama.
Penulis : Ridwan Syafriandi, S.IP
